Supporter Kardus, Sebuah Anomali

Entah kapan kardus berkenalan dengan dunia sepakbola, tetapi istilah fans kardus muncul di media sosial sementara kardus sungguhan bahkan muncul di tribun di Liga Jepang tahun 2014 untuk mengisi bangku penonton yang kosong. Pasti kecil kemungkinan kardus di sepakbola itu muncul karena istilah “Jenderal kardus” yang pernah dilontarkan politisi Demokrat tahun 2018 lalu.

Bicara fans kardus, supporter dalam olahraga adalah sebutan untuk pendukung sebuah tim atau seorang atlit. Ketika sebuah tim sepakbola bertanding, ratusan hingga puluhan ribu supporter biasanya akan datang ke stadion. Suara gemuruhnya bisa menyuntikkan tambahan semangat kepada pemain yang didukung dan sebaliknya bisa melemahkan mental lawan. Saking berpengaruhnya, supporter sering disebut sebagai pemain ke-12 dalam sepakbola.

Di panggung eropa, setidaknya di Inggris, karakter supporter ini terlihat jelas. Mereka datang untuk membantu timnya berjuang. Ketika timnya terlihat kesulitan atau tertinggal skor, supporter berteriak dan bernyanyi-nyanyi untuk memberi semangat. Meski akhirnya kalah, supporter tetap memberikan aplaus kepada pemain seakan berarti, “Kamu telah berusaha. Terima kasih dan tetap semangat!” Kefanatikan supporter sering melebihi pemain itu sendiri. Wajar, supporter sudah menaruh hatinya dan mereka tidak kemana-mana selama puluhan tahun sementara pemain profesional bisa berpindah-pindah tuan alias klub.

Melekat di ingatan saya bagaimana supporter meneteskan airmata di pertandingan terakhir sebuah musim kompetisi karena timnya terdegradasi. Lagi-lagi di Liga Inggris. Supporter tetap di tribun hingga pemain keluar dari lapangan dan mereka tetap di sana pada musim berikutnya meski di tim itu bermain level yang lebih rendah. Oh, iya, ini adalah supporter sejati yang saya ceritakan. Tidak termasuk supporter musiman yang biasanya wisatawan atau pendatang.

Nah, supporter musiman ini justru banyak dialami klub-klub yang mengalami kejayaan. Saking tenarnya, banyak orang dari seluruh dunia mendeklarasikan diri sebagai fan. Tetapi kemudian menghilang pelan-pelan saat prestasi klub menurun lalu mencari klub yang sedang tenar lainnya meski mereka enggan melepaskan titel fans tersebut.

Kembali ke hakikat supporter, karakter yang sedikit berbeda terlihat di tanah air, Asia dan beberapa negara di Eropa. Kebanyakan supporter (mungkin sebutan yang kurang pas) datang ke venue untuk menikmati permainan. Tak jauh beda dengan penonton yang datang ke cinema atau tenda sirkus. Harga tiket harus sebanding dengan tontontan yang disaksikan. Jika tidak, penonton kecewa dan mengomel.

Penonton (istilahnya diganti saja biar lebih pas) menyanjung-nyanjung pemain dan pelatih jika mereka menang dan berada di papan atas klasemen. Sebaliknya, meninggalkan stadion jika kalah dan puasa ke stadion jika klub turun kasta. Sangat banyak kejadian dimana penonton mencaci bahkan melempari para pemain. Kaca bus bisa pecah dan pemain bisa tertahan di dalam stadion menghindari amukan massa.

Saya mendapat pelajaran saat menemani putri saya mengikuti lomba lari di sekolahnya di New Zealand (kebetulan masih persemakmuran Inggris Raya). Di putaran akhir, ketika sebagian besar peserta telah mencapai garis finish, guru dan anak-anak lain yang menonton termasuk yang telah selesai berlari, bersorak-sorak memberikan semangat kepada anak-anak yang belum mencapai garis finish. “Ayo, Kawan (nama-nama mereka disebutkan). Teruskan, kamu bisa!” Pada detik itu juga saya membayangkan apa yang terjadi jika pertandingan ini berlangsung di sekolah tanah air. Biasanya anak-anak suka mengolok-olok temannya yang kalah atau tertinggal. Pelajaran ini langsung berkesan karena putri saya adalah salah satu pelari yang hampir menyerah karena tertinggal di belakang.

Kawan… Esensi kata “support” dalam kamus Merriam-Webster adalah membela, membantu, menolong, menghindari menyerah atau kehilangan keberanian. Sementara kata “dukung” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti memberikan sokongan, bantuan, dan tunjangan. Sehingga supporter adalah orang yang memberikan itu semua dan bukan sebaliknya. Anda dan saya pasti sangat paham bahwa dukungan itu lebih dibutuhkan pada saat terpuruk dan jatuh, bukan di saat jaya.

Ditulis oleh: Bergman Siahaan (FB Bergman Siahaan | IG @bergmansiahaan)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s