Seandainya Netizen Melek Internet

Judul yang aneh. Kok netizen gak melek internet? Ngawur. Ya, sudah pasti lah, netizen melek internet!

Begini.., artikel ini membahas mengapa dunia per-medsos-an selalu riuh rendah dengan komentar-komentar yang mengarah ke bully alias kecaman dan hujatan. Dunia dimana “mulutmu, harimaumu” tidak relevan dan “berdiam itu emas” tidak berguna, karena fungsi mulut sudah pindah ke jari.

Orang tua dulu bilang, “Nak, mulut diciptakan Tuhan hanya satu sementara telinga ada dua supaya lebih banyak mendengar daripada bicara.” Lha, jempol tangan dan mata sama-sama ada dua, gimana? Yang ada, belum baca udah komentar.

Sudah jadi pandangan sehari-hari jika ada berita yang agak seru (dibuat seseru mungkin oleh media dengan judul yang bombastis), pasti dunia medsos jadi ramai. Komentar atau status-status meledak meletup seperti kembang api di tahun baru. Apalagi kalau menyangkut kebijakan publik. Nada-nada minor terdengar seperti koor meski dinyanyikan tanpa konduktor. Padahal kalau mau menyisihkan waktu sedikit untuk mengetik di Google Search, bisa jadi komentar atau status tersebut akan berbeda atau malah tidak di-post sama sekali.

Ambil contoh yang hangat aja, biar makin seru, yaitu ketika netizen yang konon kelas menengah ke atas itu berteriak, “Lockdown!“. Seandainya mereka mau bersabar sedikit dan melakukan pencarian kecil-kecilan di internet, tentang analisa para ahli, lalu melihat pengalaman negara-negara lain, mungkin narasi lockdown-nya akan berbeda. Setelah melihat bahwa Amerika Serikat belum melakukan lockdown secara nasional dan India dengan buru-buru melakukan lockdown lalu kemudian menjadi kacau atau mencari tahu apakah Selandia Baru berhasil yang menerapkannya. Ternyata jumlah dan profil penduduk serta karakter perekonomian suatu negara menjadi faktor yang menentukan keputusan lockdown.

Contoh lain lagi, kebijakan melepaskan narapidana dengan alasan kemanusiaan. Netizen juga ramai berkomentar miring, sebagian bukan hanya miring, tapi ada yang nungging dan yang lain tengkurap. Padahal jika mau melek sedikit, lagi-lagi dengan cara gugling yang gratis dan cuma hitungan detik, maka terlihatlah bahwa negara-negara lain sudah lebih dulu melakukannya. Iran melepas 85000 napi termasuk tahanan politik di pertengahan Maret lalu. Perancis sudah melepas 5000 di akhir Maret dan Inggris akan melepas 4000 orang. PBB sendiri memang menghimbau agar kebijakan tersebut dilakukan demi mengurangi penyebaran virus Covid-19.

Masih banyak lagi contoh lain yang bisa dibahas dan poinnya bukan pada dua masalah di atas. Namun mengingat netizen pada umumnya tidak sabar membaca terlalu lama dan untuk mengurangi redudansi dan repetisi, maka sila ditelusuri sendiri saja, ya, contoh-contohnya… Iya, di internetlah, perpustakaan tutup deh kayaknya.

Kemudian datang pembaca yang kritis (bukan karena terinfeksi Covid-19, maksudnya pikirannya yang kritis), “Emang kalau netizen sudah gugling dan dapat faktanya, apa mereka pasti gak bakal ngaco?

Iya, sih. Enggak juga. Jangankan berita dan data, undang-undang, hukum pidana, bahkan kitab suci sekalipun yang dibaca oleh orang yang berbeda, penafsirannya bisa berbeda. Nah… Trus poinnya apa? Huh, artikel tidak bermanfaat (ocehan ala netizen maha benar).

Poinnya adalah, melakukan riset online sederhana bukan hanya bisa mengurangi penyebaran hoaks, tetapi juga menekan penularan kebodohan. Kalaupun setelah riset tetap ngaco, ya memang itulah warna-warninya penduduk bumi. Itu namanya keanekaragaman. Diversity, lho…

Ditulis oleh: Bergman (fb: Bergman Siahaan | ig: @bergmansiahaan)

Ilustrasi: Pixabay

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s