Covid-19: Kebun Binatang Bukan Kodrat Satwa Liar

Pandemi Covid-19 bukan hanya menyengsarakan manusia tetapi juga hewan-hewan di kebun binatang. Pertama, hewan-hewan yang memiliki tingkat sosial dan intelijensia tinggi seperti orangutan dan simpanse kehilangan rutinitas dan perhatian manusia selama kebun binatang ditutup. Ketidakhadiran manusia ternyata membawa dampak negatif kepada beberapa jenis hewan.

Sepasang simpanse kembar di Taman Krasnoyarsk Royev Ruchey, Rusia, menunjukkan tanda-tanda depresi tak lama setelah lockdown diberlakukan. Ahli mengatakan bahwa simpanse butuh banyak teman sebanyak makanannya. Akhirnya petugas kebun binatang memutar film kartun di layar besar di luar kandang untuk menarik perhatian simpanse-simpanse itu.

Di Kebun Binatang Patna, India, petugas bersorak dan bertepuk tangan untuk menghibur simpanse-simpanse mereka. Sementera pekerja di Kebun Binatang Marwell, Inggris secara sukarela tinggal di areal kebun binatang tersebut untuk bisa memberikan perhatian intensif ke hewan-hewan.

Beberapa hewan langka juga dilaporkan tetap memunculkan dirinya setiap hari untuk menanti kunjungan manusia meski tidak seorang pun yang datang. Ketidakhadiran manusia dalam jumlah besar juga dikhawatirkan menimbulkan perhatian hewan-hewan buas terhadap hewan lain seperti bau yang selama ini teralihkan dengan kehadiran pengunjung.

Kedua, hewan-hewan tersebut terancam kelaparan. Semua tahu kalau biaya makan hewan-hewan tersebut sangatlah besar. Bukan hanya hewan karnivora, hewan herbivora pun membutuhkan biaya makan yang tak kalah besarnya. Seekor gorilla di Taman Satwa Orana, Christchurch, New Zealand menghabiskan 800 dolar NZ atau sekitar 7,5 juta rupiah setiap minggunya untuk penyediaan sayuran.

Krisis pakan

Pemasukan dari pengunjung praktis hilang sejak ditutupnya kebun binatang akibat pandemi Covid-19. Padahal 95% pendapatan taman margasatwa seperti Orana berasal dari penungjung dalam bentuk tiket dan transaksi lainnya. Hampir tidak ada kebun binatang yang disokong anggaran pemerintah. Pada umumnya dikelola dengan prinsip perusahaan swasta meskipun tergolong usaha non profit.

Pengelola-pengelola kebun binatang di seluruh dunia kini mengharapkan donasi demi kelanjutan hidup satwanya. Kebun Binatang Medan, mengaku kelimpungan mencari dana 100 juta rupiah per bulan untuk biaya pakan satwa. Sejak ditutup pada Maret 2020, manajemen sudah meminjam dan meminta sana-sini untuk menghidupi 270 satwanya. Sementara kebutuhan pakan kebun binatang yang koleksinya melebihi 1000 ekor seperti Kebun Binatang Surabaya dan Gembira Loka Yogyakarta akan berada di kisaran setengah miliar rupiah sebagaimana yang pernah dilansir media Tirto.

Kemana mencari dana sebesar itu secara konsisten selama beberapa bulan? Melepasliarkan tentu bukan solusi yang bisa dilakukan karena selain kendala lokasi dan biaya, kemampuan hewan untuk bertahan di alam liar pun sudah sangat rendah. Hasil studi di Universitas Exeter, Inggris menunjukkan hanya 33 persen satwa karnivora yang mampu bertahan hidup setelah dilepas ke alam liar.

Jika krisis Covid-19 berkepanjangan, ahli satwa liar memperkirakan akan banyak satwa yang harus dieutanasia (disuntik mati) dari pada dibiarkan mati kelaparan. Bukan karena ketersediaan dana saja, tetapi ketersediaan bahan makanan hewan liar pun berpotensi merosot akibat dampak krisis ekonomi yang berantai. Opsi mengorbankan sebagian satwa untuk makanan satwa yang lain pun menjadi pertimbangan lain. Kebun Binatang Neumunster di Jerman mengatakan tengah bersiap mengambil langkah ini jika tak mampu lagi menyediakan makanan bagi satwanya dalam waktu dekat.

Sedikit upaya

Selain menanti uluran tangan donatur besar, kebun binatang harus sudah membuat penggalangan dana massal dengan memanfaatkan teknologi informasi. Taman satwa Orana di New Zealand berhasil mengumpulkan 230 ribu dolar dari 4000 warga. Kampanye di media-media sosial hingga melalaui aplikasi atau kerjasama dengan bank dan operator seluler yang bisa memudahkan orang menyumbang dana perlu dikaji lebih lanjut. Misalnya untuk bisa menyumbangkan sebagian pulsa atau cara-cara transaksi elektronik lainnya.

Di Perancis, daging-daging untuk makanan hewan didatangkan dari pasokan rumah makan yang tutup selama lockdown. Hal ini bisa menjadi pertimbangan karena bagaimana pun terjadi ketidakseimbangan permintaan dan penawaran daging selama lockdown terjadi. Jika komunikasi dan kolaborasi bisa terjalin, mungkin ada sedikit solusi yang bisa disepakati dengan para pengusaha. Namun penanganan khusus dari pemerintah bukan berarti dilupakan. Selayaknya penanganan darurat lainnya, nasib hewan-hewan ini seharusnya juga masuk dalam skema bantuan pemerintah.

Nasib satwa liar

Malanglah memang nasib satwa-satwa liar di bumi ini. Bahwa kebun binatang pun sebenarnya sudah menjadi penjara yang menyiksa, krisis akibat Covid-19 ini bisa membuat kebun binatang benar-benar menjadi neraka. Sebagus-bagusnya kandang tetap saja bukan habitat alami satwa liar. Fungsi edukasi bagi anak-anak pun perlu ditinjau ulang ketika faktanya lebih banyak anak-anak yang datang ke kebun binatang untuk bermain. Lagipula, konsep pelajaran dunia satwa liar sebenarnya sudah keliru saat itu dilakukan di kebun binatang.

Portal Sentient Media dalam sebuah artikelnya menjelaskan bagaimana kebun binatang membawa lebih banyak kemalangan kepada satwa liar daripada kebaikan. Salah satunya karena kebun binatang memperkenalkan satwa liar kepada anak-anak sebagai benda kepemilikan dan bukan mahluk hidup yang mempunyai hak atas dirinya sendiri untuk hidup bebas, mencari makan dan berkembang biak secara alami.

Pada kebun binatang yang surplus, anak hewan dipisahkan dari keluarganya untuk dikirim ke kebun binatang lain di belahan bumi yang lain. Sementara kebun binatang yang tak mampu, membiarkan koleksinya mati perlahan-lahan dalam kekurangan gizi dan ruang gerak. Gajah-gajah yang biasa menjelajah dan hidup dalam kelompok keluarga besar menghabiskan hidup kesepian dengan bebat rantai pendek di kakinya dan pukulan besi runcing di bahunya setiap kali membawa pengunjung yang tertawa girang di kebun binatang.

Kelompok peduli lingkungan Yayasan Scorpion Indonesia pernah mengklaim bahwa 90 persen dari tiga puluhan kebun binatang yang ada di Indonesia tidak memberikan habitat yang layak buat hewan. Hewan malnutrisi di kandang atau aquarium yang sempit dan kotor sudah sering dipamerkan melalui foto-foto pengunjung. Hewan-hewan yang mati secara menyedihkan di dalam kendang sesaat heboh di pemberitaan. Namun belum cukup untuk menghadirkan perubahan yang signifikan. Penyebabnya memang kompleks, mulai dari pemahaman, biaya hingga pengawasan.

Krisis Covid-19 ini kembali menunjukkan dengan jelas bahwa kebun binatang alias taman margasatwa adalah kesalahan kodrat satwa liar. Manusia dan perputaran bisnis kebun binatangnya ternyata sangat rentan dan tidak punya ketahanan sama sekali menghadapi krisis. Perang dan bencana alam pun akan membawa masalah yang sama parahnya seperti pandemi ini.

Daging hewan mati dan tumbuhan layu bukanlah makan aslinya. Ketika hewan-hewan tersebut tak bisa mencari makanannya sendiri, lalu manusia dengan kerapuhannya mengaku tak mampu menyediakannya. Lengkaplah sudah kemalangan satwa-satwa liar itu.

The caged eagle becomes a metaphor for all forms of isolation, the ultimate in imprisonment. A zoo is a prison. (Nadine Gordimer)

Ditulis oleh: Bergman Siahaan (fb: Bergman Siahaan | IG: @bergmansiahaan)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s