Linimasa Kebijakan New Zealand Dalam Penanganan Pandemi Covid-19

Selandia Baru adalah salah satu negara yang dianggap berhasil menekan penyebaran virus SARS CoV-2, si penyebab pandemi Covid-19. Sumber data yang berbeda memang mencantumkan daftar negara yang berbeda tetapi nama Selandia Baru selalu disebut-sebut. Penulis coba membuat catatan kebijakan Pemerintah Selandia Baru setelah mengalami sendiri ter-lockdown selama 33 hari di Kota Wellington.

Januari

Fase awal pandemi Covid-19 mulai diumumkan secara resmi pada 11 Januari 2020 ketika Republik Rakyat Tionghoa (RRT) mengonfirmasi kasus pertama yang meninggal. RRT lalu melakukan lockdown pada Kota Wuhan pada tanggal 23 Januari 2020. Deklarasi “darurat kesehatan internasional” dari WHO baru terjadi pada 30 Januari 2020 setelah angka korban meningkat tajam di beberapa negara.

Februari

Sama seperti negara-negara lain, Selandia Baru mulai melakukan pengawasan ketat di bandara-bandara internasional sejak 3 Februari 2020. Isolasi 14 hari pun diberlakukan bagi penumpang yang datang dari atau transit di daratan Cina. Kasus pertama Covid-19 di Selandia Baru diumumkan hampir sebulan kemudian yaitu pada 28 Februari 2020. Dia adalah seorang yang berusia 60an yang baru tiba di Auckland setelah berangkat dari Iran dan sempat transit di Bali.

Maret

Berselang dua minggu, yakni pada 14 Maret 2020, Pemerintah Selandia Baru menghimbau isolasi mandiri kepada setiap pendatang dari luar negeri meski kasus saat itu baru enam orang. Menteri Keuangan lalu mengungkap dana sebesar 12,1 miliar dolar atau sekitar 112 triliun rupiah yang disiapkan untuk membantu warga Selandia Baru yang ekonominya terdampak pandemi. 600 juta dolar dari dana tersebut akan diplot untuk sektor transportasi udara.

Pada tanggal 19 Maret 2020, untuk pertama kalinya dalam sejarah Selandia Baru, seluruh perbatasan ditutup kecuali hal-hal tertentu. Pemerintah kemudian memperkenalkan istilah empat level dalam status waspada Covid-19 pada 21 Maret 2020. Saat itu Perdana Menteri menyatakan negara masih berada di level dua yang berarti risiko penularan di masyarakat sedang menigkat.

Grafik kasus Covid-19 di Selandia Baru terus menanjak dan melewati angka 100 pada tanggal 23 Maret 2020. Pada hari itu juga, Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern, mengumumkan status waspada level tiga dan akan naik ke level empat dalam 48 jam. Pemerintah kemudian mengeluarkan aturan untuk melarang kenaikan harga sewa rumah dan tidak memutuskan kontrak selama enam bulan. Perumahan memang menjadi masalah besar di Selandia Baru.

Tanggal 26 Maret 2020, Selandia Baru memulai status waspada level empat yang berarti lockdown. Direncanakan selama sebulan, semua orang harus tetap tinggal di rumah. Sekolah, perkantoran dan bisnis tutup kecuali yang dikategorikan essential business seperti supermarket, farmasi, sarana kesehatan, dan pengisian bahan bakar. Namun demikian masyarakat masih boleh melakukan perjalanan jarak dekat seperti belanja kebutuhan pokok dan berolahraga.

April

Kematian pasien Covid-19 pertama baru terjadi pada hari ketiga lockdown dan angka orang yang terpapar melonjak menjadi 514. Jumlah kasus terus meroket hingga melewati angka 1000 pada hari kesebelas, tepatnya pada tanggal 5 April 2020, dengan jumlah kasus baru sebanyak 89. Pada saat yang sama, jumlah pasien yang sembuh juga mengejar naik dan akhirnya melewati jumlah kasus baru pada tanggal 7 April 2020, yakni 65 orang berbanding 54 orang.

Tanggal 15 April 2020, Menteri Keuangan mengatakan negara menyiapkan 20 miliar dolar untuk mengantisipasi dampak ekonomi yang lebih buruk. Sektor usaha kecil dan menengah menjadi perhatian khusus dengan memberikan fleksibilitas pembayaran pajak, langkah-langkah untuk membantu biaya sewa gedung hingga dukungan konsultasi bisnis.

Angka kasus baru kemudian mulai menurun meski fluktuatif dan jumlah pasien (kasus aktif) pun turun dari puncaknya (929 orang) pada 8 April 2020. Seminggu sebelum masa lockdown yang dijadwalkan berakhir, Perdana Menteri memperpanjang lockdown hingga 27 April 2020.

Status waspada Selandia Baru turun ke level tiga pada tanggal 28 April 2020. Usaha makanan sudah boleh buka dengan layanan drive-thru dan delivery. Perdagangan hanya sebatas transaksi online, sementara usaha lain yang bersentuhan langsung dengan pelanggan masih ditutup. Sekolah dasar diperbolehkan buka namun kenyataannya mayoritas orang tua belum ingin mengantar anaknya ke sekolah. Sementara perguruan tinggi tetap melakukan pembelajaran secara online hingga libur tengah tahun.

Status waspada Selandia Baru turun ke level tiga pada tanggal 28 April 2020. Usaha makanan sudah boleh buka dengan layanan drive-thru dan delivery. Perdagangan hanya sebatas transaksi online, sementara usaha lain yang bersentuhan langsung dengan pelanggan masih ditutup. Sekolah dasar diperbolehkan buka namun kenyataannya mayoritas orang tua belum ingin mengantar anaknya ke sekolah. Tetapi perguruan tinggi tetap melakukan pembelajaran secara online hingga libur tengah tahun.

Ditulis oleh: Bergman Siahaan (FB: Bergman Siahaan | IG: @bergmansiahaan)

Gambar: Radio New Zealand (RNZ)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s